dokumentasi pribadi
Hari itu kali ke-6 datang ke Osaka. Reyvi si perencana ini saat itu sama sekali tidak merencanakan secara detail destinasi yang akan dikunjungi di Osaka, yang terpenting ingin bertemu dengan kerabat dalam rangka masih dalam masa perayaan Idul Adha. Perasaanku sangat antusias karena pertama kalinya pergi ke Osaka menggunakan kereta jenis 𝘒𝘪𝘯𝘵𝘦𝘵𝘴𝘶 𝘓𝘪𝘮𝘪𝘵𝘦𝘥 𝘌𝘹𝘱𝘳𝘦𝘴𝘴 (ekspres terbatas) dari Nagoya. Betul, itu pilihan yang tepat, selain cuaca yang sangat cerah ternyata pemandangan melewati Prefektur Mie dan Nara sangatlah menakjubkan. Tiba di Stasiun Tsuruhashi Osaka sekitar pukul 8.20 pagi mencoba mencari tempat untuk berburu foto. Tak disangka ternyata menemukan sebuah tempat yang sangat jarang ditemukan di Nagoya, rasanya seperti masuk ke dalam dalam drama Korea. Mendengar orang berbicara dengan Bahasa Korea, banyaknya spanduk bertuliskan aksara hangul, serta segala macam toko yang menjual barang asli Korea, jauh berbeda dari yang biasa dilihat hanya hiruk pikuk Kota Osaka yang dikelilingi gedung menjulang tinggi, kali ini melihat sisi lain dari kota terbesar ketiga di Jepang ini. Di pagi hari itu mencoba berkeliling sembari memotret dengan kamera digital kesayangan, ingin rasanya menikmati segala macam makanan yang dijual namun sayangnya datang di waktu yang tidak tepat, terlalu pagi untuk berbelanja sementara penjual sedang mempersiapkan dagangannya. Benar-benar merasa “ini bukan Jepang, ini pasar yang ada di drakor-drakor”. Kabarnya di daerah sana memang banyak warga Korea yang menetap, apalagi setelah masa penjajahan Jepang atas Korea (1910-1945) dan menjadikan area tersebut berkembang menjadi komunitas Korea yang besar dan turun-temurun. Sangat menarik! Kedepannya jikalau ada kesempatan ke Osaka akan mencoba menjelajahi daerah itu lagi, khususnya ke suatu area yang disebut “𝘒𝘰𝘳𝘦𝘢𝘯 𝘛𝘰𝘸𝘯”. Ingin sekali memotret kembali tempat-tempat itu dan juga tempat lain yang lebih terasa tradisional dan melokal.





0 komentar:
Posting Komentar